Jalan Kanopi, 4: Menghadapi Ketidakpastian
Episode 4: Menghadapi Ketidakpastian
Hari itu, Adin merasa lebih sibuk dari biasanya. Setelah pertemuan dengan Rina kemarin, dia mulai mempersiapkan bahan untuk proyek kanopi di rumahnya, sekaligus menyiapkan berbagai hal untuk pekerjaan yang akan datang dari Ibu Siti. Namun, ada satu masalah yang tiba-tiba muncul dan mengusik pikirannya—masalah tenaga kerja.
Setelah pertemuan dengan Toni kemarin, Adin menyadari bahwa meskipun dia bisa mengatur jadwal dan bahan, dia membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Namun, tenaga kerja yang dia punya masih terbatas. Adin sempat berpikir untuk merekrut beberapa orang, tapi dia tahu itu akan membutuhkan modal lebih banyak, dan saat ini dia harus menjaga pengeluaran tetap rendah.
"Bagaimana ya kalau aku coba cari pekerja lepas dulu? Jangan langsung ambil orang tetap, kan aku belum punya banyak proyek," gumam Adin pada dirinya sendiri sambil memeriksa daftar pekerja yang mungkin bisa dia ajak bekerja sama.
Adin memutuskan untuk mencari pekerja lepas, setidaknya untuk sementara waktu. Namun, begitu dia mulai menghubungi beberapa kenalan yang bisa membantu, ada satu masalah lain yang muncul—beberapa dari mereka sudah terikat kontrak dengan perusahaan lain.
“Wah, ternyata nggak segampang itu, ya,” ujar Adin sambil meremas kepalanya. “Harus mikirin cara lain nih.”
Sambil merenung, Adin memutuskan untuk pergi ke bengkel temannya, Iwan, yang sudah berpengalaman dalam berbagai pekerjaan konstruksi. Iwan adalah teman lama Adin yang sudah cukup sukses menjalankan usaha jasa konstruksi. Adin berharap Iwan bisa memberi beberapa saran dan mungkin membantu memperkenalkan beberapa pekerja yang bisa diandalkan.
Setibanya di bengkel, Adin langsung menyapa Iwan yang sedang memeriksa beberapa alat. "Iwan, lagi sibuk ya?" tanya Adin.
Iwan menoleh dan tersenyum. "Oh, Adin! Ada apa? Kenapa datang kesini?"
Adin duduk dan mulai bercerita tentang masalah tenaga kerja yang sedang dihadapi. "Aku sedang cari pekerja, tapi kesulitan, Iwan. Banyak yang sudah ada pekerjaan tetap, dan aku nggak tahu harus mulai dari mana."
Iwan mengangguk, “Itu memang masalah yang sering terjadi, bro. Banyak orang yang sudah terikat kontrak atau cuma mau kerja di tempat yang lebih besar. Tapi coba kamu cari orang-orang yang baru belajar. Banyak kok orang yang sedang mencari pengalaman, dan mereka mungkin mau diajak kerja lepas untuk cari tambahan penghasilan."
Adin merasa sedikit lega mendengar saran Iwan. "Oh, jadi itu jalan keluarnya ya? Pekerja yang baru belajar, tapi tetap punya semangat?"
Iwan mengangguk. "Betul. Mereka butuh pengalaman, kamu butuh orang untuk bantu. Bisa jadi win-win solution."
Adin merasa seperti mendapatkan pencerahan. Mungkin itu jawabannya. Dia bisa mencari pekerja yang masih ingin belajar, sambil memberikan mereka kesempatan untuk berkembang. Selain itu, dengan bekerja sama dengan pekerja yang baru belajar, Adin bisa menjaga biaya tetap terjangkau tanpa mengurangi kualitas pekerjaan.
Setelah percakapan itu, Adin merasa lebih ringan. Dia pun kembali ke rumah dan mulai mencari informasi tentang kursus atau pelatihan singkat untuk pekerja yang ingin belajar tentang pemasangan kanopi. Sambil menunggu, dia juga mulai menyiapkan bahan untuk proyek Rina yang akan dimulai minggu depan.
Beberapa hari kemudian, Adin mulai menerima beberapa tawaran dari pekerja yang tertarik bekerja dengannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keinginan kuat untuk belajar, dan Adin pun merasa yakin bisa mengajari mereka sedikit demi sedikit, sambil menjalankan bisnisnya.
Pada hari pertama, Adin bertemu dengan dua pekerja baru, Anton dan Budi. Mereka terlihat penuh semangat dan siap untuk belajar.
"Selamat datang, Anton, Budi! Aku akan ajari kalian tentang dasar-dasar pemasangan kanopi. Kalau ada yang nggak dimengerti, jangan ragu untuk tanya, ya?" kata Adin dengan senyum ramah.
Anton mengangguk, "Pasti, Pak Adin! Kami siap belajar!"
Budi juga tersenyum lebar, "Iya, saya sudah lama tertarik dengan pekerjaan konstruksi, Pak."
Adin merasa sedikit lebih tenang. Dengan adanya Anton dan Budi, pekerjaan-pekerjaannya bisa selesai lebih cepat, dan dia juga bisa melatih mereka agar lebih terampil. Ini adalah langkah pertama untuk mengembangkan usaha dengan lebih stabil.
Sore harinya, Adin kembali menghubungi Rina untuk memberi kabar tentang kemajuan pekerjaan kanopi. "Rina, semua berjalan lancar. Pekerjaan untuk kanopi rumah kamu akan dimulai minggu depan. Aku akan pastikan semuanya selesai tepat waktu."
Rina membalas dengan antusias, "Wah, makasih banyak, Adin! Aku percaya deh sama kamu!"
Adin pun tersenyum, merasa semakin yakin bahwa jalan yang dia pilih memang penuh tantangan, tapi juga penuh peluang.
Malam itu, sebelum tidur, Adin duduk di balkon rumahnya dan memandangi langit malam. "Satu langkah kecil, satu langkah besar. Aku pasti bisa."
Episode 4 selesai.
Komentar
Posting Komentar